Senin, 03 Desember 2007

Adopsi Pohon


ADOPSI POHON

Program pohon asuh dilancarkan diberbagai negara maju. Sedangkan di Indonesia, pohon-pohon besar ditebangi. Negara maju semakin asri. Negara miskin semakin sengsara. Sungai-sungai di Kalimantan mengering. Barito, Kahayan, Mahakam dan Kapuas merana. Itu gara-gara pohon besar habis dibabat. Apa hubungannya pohon besar ditebang dengan sungai yang mengering ? Jangan lupa fungsi pohon sebagai tangki air. Bukan hanya akarnya saja mengoptimalkan peresapan air ke dalam tanah, tapi juga batangnya. Dalam batang pohon terkandung air 20 % - 40 %. Untuk tanaman tertentu, seperti pisang-pisangan, bahkan mencapai 80 %.
Jadi kalau ada pohon raksasa yang berbobot 10 ton, dengan kandungan air 20 % berarti menyimpan 2.000 liter di batangnya. Belum lagi di dalam daun (lebih dari 40 %) dan di dalam buahnya. Untuk kelapa bahkan sangat jelas, mengandung air yang dapat dikonsumsi pula. Oleh karena itu kita tidak perlu terkejut, kalau ribuan pohon besar di Indonesia ditebangi, berarti jutaan liter cadangan air lenyap. Hilang, entah kemana. Itu berdampak pada keringnya sungai-sungai besar di sepanjang musim kemarau.
Untuk mengatasinya, sudah waktunya ada perlindungan pohon-pohon besar. Presiden atau Menteri Kehutanan perlu mendata pohon-pohon besar yang patut dijadikan pohon pustaka bangsa. Logikanya jelas, orang boleh membeli sebidang tanah, atau mengelola beberapa hektar permukaan laut. Namun segala yang hidup, menetap atau melintas di atasnya adalah milik dunia, milik seluruh umat manusia.
Dalam Piagam Bumi, pohon mempunyai hak asasi dan memerlukan perlindungan hidup. Karena ia juga penghasil oksigen yang diperlukan makhluk-mahkluk lain yang bernapas. Pohon juga berfungsi termoregulator, pengatur suhu, agar tidak terlalu panas pada terik siang, dan tidak terlalu dingin pada malam hari. Pohon mengisap racun di udara, menyaring debu, melindungi manusia dari badai, sambaran petir dan tsunami.
Namun bukan hanya pohon pelindung yang diadopsi. Pohon-pohon produksi juga ditawarkan ke pasar internasional. Italia menawarkan adopsi pohon zaitun. Ekuador menawarkan pohon kakao, Perancis punya dua jenis oak yang menghasilkan jamur truffle di seputarnya. Satu pohon ditawarkan berikut 20 m persegi tanah di sekelilingnya. Ongkos untuk mengadopsi satu pohon berkisar Rp. 3 juta dengan biaya perawatan Rp. 500.000,- setahun. Tempatnya di Le Gers, Perancis Selatan. Para pengasuhnya pecinta kuliner, pekebun hobiis, dan pecinta alam justru banyak dari Inggris.
Sepintas, tradisi pohon asuh di Perancis itu mirip sistem ijon di Indonesia. Kita mengenal bermacam pohon buah yang dibeli sebelum panen. Cukup dengan memperhatikan kedewasaan pohon atau jumlah bunganya, para tengkulak bersedia membayar produksi panen mendatang. Itu berlaku untuk mangga, lengkeng, durian rambutan, jambu, petai, melinjo, bahkan vanili, sayur mayur dan padi.
Tujuan membeli di muka bukan untuk melestarikan, apalagi menolong petani. Sistem pembelian ijon merupakan spekulasi dagang dengan itikad menekan harga beli serendah-rendahnya, supaya kelak untung sebesar-besarnya. Tentu praktek itu tidak dapat disamakan dengan adopsi pohon oak penghasil jamur truffle di dekat Toulouse, Perancis Selatan itu. Dengan biaya 149 poundsterling, seorang di Inggris bisa pesan sebatang pohon oak untuk ditanam. Boleh memilih jenis holm atau jensi oak putih. Lalu setiap tahun dikenakan biaya perawatan 35 poundsterling. Setiap jamur yang muncul di sekitar pohon itu menjadi milik pengadopsi.
Pola asuh pohon zaitun di Italia lain lagi. Perkebunan Nudo di kawasan perbukitan, menawarkan 881 pohon zaitun. Kalau anda mengadopsi pohon zaitun, hasil panen atau minyak zaitun dikirimkan langsung kepada Anda. "Bukan saja lezat dan nikmat, tapi Anda bisa memamerkan ke seluruh dunia. Zaitun itu dipanen dari pohon sendiri di Italia," begitulah iklannya.
Untuk Indonesia, program pohon asuh lebih diarahkan untuk pohon industri. Misalnya mengasuh pohon suren di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dinas Kehutanan dan Perkebunan di sana menawarkan program mengasuh pohon suren dengan biaya Rp. 2,5 juta per tahun untuk satu hektar yang berisi 400 batang. Hasilnya kelak, waktu panen, orangtua asuh mendapat 10 % hasilnya.
Satu hal istimewa yang dapat dibanggakan, di Kebun Raya Bogor ada sebatang pohon leci Litchi chinensis yang ditanam pada tahun 1823. Jadi umurnya sudah 183 tahun. Tingginya sekitar 20 meter dan sangat disukai oleh burung kowak kelabu, yang sering kita sebut blekok. Setiap malam puluhan bahkan ratusan blekok tidur di ranting-rantingnya. Akibatnya, pohon ini jadi kotor dan bau amis karena kotorannya. Sudah beberapa kali dicoba menangkapi dan memindahkan burung-burung itu.
Namun selalu saja datang, sampai si pohon leci terancam mati. Untuk merawatnya perlu banyak biaya karena pohon yang besarnya tiga kali pelukan orang dewasa itu perlu dicuci. Sejak 3 tahun yang lalu, pohon yang didatangkan dari Tiongkok itu diasuh oleh Hongkong Shanghai Bank Corporation (HSBC). Santunan untuk mengasuh pohon itu US$ 1.000 setara dengan Rp. 9 juta setiap tahun.
Penawaran untuk mengasuh pohon selalu terbuka bagi perorangan dan industri. Di kawasan Capitol Jababeka, Cikarang Baru, Bekasi, terdapat lebih dari 16 spesies eksotis yang sedang menunggu pengasuh. Di antara pohon-pohon itu terdapat spesies neotropis yang cukup indah. Misalnya jacaranda biru, dan kigelia pinata. Pohon jacaranda biru, berdaun kecil dan berbunga biru, banyak terdapat di kota Brisbane, Australia dan di Harare, ibukota Zimbabwe.
Bagi yang ingin jadi pengasuh, bisa berhubungan dengan President Botaical Garden, pengelola Taman Botani di kawasan industri Jababeka. Koleksinya yang lain adalah Tabubea chryanta, sejenis pohon neotropis lain dari Argentina. Spesies lokal yang ditawarkan adalah sempur, terung hutan, ganitri, dan bisbul. Ada juga maja Aegle marmelos yang sering dikaitkan dengan nama kerajaan Majapahit. Pohon-pohon itu ditawarkan untuk dijadikan pohon asuh dengan santunan bervariasi antara Rp. 600.000,- - Rp. 3 juta setiap tahun.
Apa yang kita peroleh jika mengasuh pohon ? Tiap pohon diberi plakat dengan memuat nama pemberi sponsornya. Misalnya cendana Santalum album, pohon langka dan bernilai tinggi datang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ditanam sejak Juli 2006. dirawat dan diasuh dengan sponsor keluarga Anda.Suatu hal yang sederhana, tetapi dapat memberikan inspirasi. Bukan hanya dalam menyelamatkan pohon-pohon di jalan-jalan perkotaan, tetapi juga pohon-pohon yang masih tegak di desa dan di hutan. Sudah saatnya gerakan untuk merawat, melindungi dan menjaga pohon besar, langka dan bernilai tinggi dari segi spiritual maupun ekonomi, digalakkan di bumi Indonesia.

2 komentar: